GrowWithAI.id
Content & Personal Branding

LinkedIn Resmi Punya Tombol Lapor 'AI Slop' untuk Beranda

LinkedIn meluncurkan tombol report baru bertuliskan 'Seems like AI slop' di menu tiga titik pada setiap post. Fitur ini merupakan bagian dari upaya resmi…
GrowWithAI30 Juli 20264 menit baca
linkedinai-slopcontent-creationpersonal-brandingdeteksi-aisocial-media
LinkedIn Resmi Punya Tombol Lapor 'AI Slop' untuk Beranda

LinkedIn meluncurkan tombol report baru bertuliskan 'Seems like AI slop' di menu tiga titik pada setiap post. Fitur ini merupakan bagian dari upaya resmi mengurangi volume konten yang diduga dibuat AI dan berkualitas rendah. Keputusan ini muncul setelah AI detector Pangram menemukan 41 persen longform post LinkedIn terdeteksi sepenuhnya dihasilkan AI, seperti dilaporkan 404Media. Chief product officer Hari Srinivasan menyebut AI slop sebagai prioritas utama perusahaan. LinkedIn juga memperbarui classifier untuk menekan konten serupa dari suggested content dan feed di luar jaringan, serta mengganti fitur AI 'enhance' dengan alat proofread yang tidak mengubah gaya penulis.

Poin Penting

  • Tombol 'Seems like AI slop' kini tersedia di menu tiga titik pada post LinkedIn.
  • Detektor Pangram menemukan 41 persen longform post LinkedIn terdeteksi sepenuhnya AI-generated.
  • LinkedIn menambah classifier baru untuk mengurangi AI slop dari konten yang disarankan dan dari luar jaringan.
  • Pengarang yang post-nya dianggap tidak autentik akan mendapat notifikasi atau indikator dari uji coba LinkedIn.
  • Fitur AI 'enhance' resmi dihapus dan diganti alat proofread yang tidak mengubah gaya tulisan.
  • CPO Hari Srinivasan menjadikan AI slop sebagai prioritas utama produk LinkedIn.

Penjelasan Mendalam

Tombol report ini bekerja sebagai sinyal manusia yang masuk ke sistem rekomendasi LinkedIn. Saat pengguna mengkliknya, LinkedIn langsung menyembunyikan post dan menampilkan pesan terima kasih, lalu feedback tersebut dipakai untuk menyetel model dan membuat feed lebih baik seperti dijelaskan Srinivasan. Mekanisme ini melengkapi classifier otomatis yang dirancang untuk mengenali pola AI slop dan konten low-quality sebelum ditampilkan ke pengguna. LinkedIn juga sedang menguji perlakuan khusus bagi penulis yang post-nya dianggap tidak autentik oleh banyak pengguna, sehingga penulis mendapat sinyal untuk memperbaiki pendekatan kontennya. Keputusan menghapus fitur 'enhance' dan menggantinya dengan proofreader yang menjaga voice penulis menunjukkan arah platform: AI boleh membantu, tetapi keaslian suara manusia tetap menjadi nilai utama.

Kenapa Ini Penting

Bagi praktisi AI Indonesia yang membangun personal branding di LinkedIn, fitur ini mengubah konsekuensi dari konten yang terlalu bergantung pada AI. Post yang dianggap slop berpotensi kehilangan jangkauan dan kredibilitas. Ke depan, kemampuan mengombinasikan AI untuk riset dan editing dengan suara pribadi menjadi kompetensi wajib.

Untuk Siapa

Kreator konten, personal branding specialist, dan solopreneur yang memproduksi konten LinkedIn secara rutin menggunakan bantuan AI.

Contoh Use Case

  • Menggunakan tombol report untuk memahami jenis konten yang dianggap AI slop oleh komunitas, lalu menghindarinya dalam strategi konten.
  • Mengaudit postingan lama dengan alat proofreading baru untuk memastikan tulisan tetap konsisten dengan voice pribadi.
  • Membangun alur kerja penulisan yang memakai AI untuk outline dan riset, tetapi menambahkan anekdot dan opini eksklusif agar lolos classifier.
  • Menawarkan jasa humanisasi konten LinkedIn kepada klien yang sebelumnya memakai AI secara mentah.

Cara Mulai

  1. Buka LinkedIn dan cek menu tiga titik pada postingan orang lain untuk melihat apakah tombol 'Seems like AI slop' sudah muncul di akun Anda.
  2. Gunakan fitur tersebut pada beberapa post untuk memberi sinyal ke sistem dan amati bagaimana feed Anda berubah.
  3. Lakukan audit 10 postingan terakhir Anda: tandai mana yang terlalu generik dan tulis ulang dengan pengalaman pribadi.
  4. Uji fitur proofread pengganti 'enhance' saat menulis draft agar ejaan rapi tanpa mengubah gaya.
  5. Buat standar konten minimal: satu insight orisinal, satu contoh konkret, dan satu opini tegas dalam setiap post.
Contoh Prompt Siap Pakai
Peran: Ahli strategi konten LinkedIn yang menguasai personal branding dan ethical AI writing.
Konteks: LinkedIn baru saja meluncurkan tombol report 'Seems like AI slop' dan classifier anti-AI slop. Saya ingin tetap memakai AI untuk struktur dan data, tetapi tidak ingin post saya dianggap tidak autentik oleh algoritma maupun pembaca.
Tugas: Buatkan 3 draft post LinkedIn tentang cara memanfaatkan AI untuk personal branding tanpa kehilangan keaslian suara. Gunakan AI untuk riset dan struktur, tetapi lengkapi dengan pengalaman pribadi, opini tajam, dan gaya bahasa Indonesia yang natural.
Format Output: Untuk setiap draft, tulis bagian Hook (maks 1 kalimat), Isi (3-5 kalimat), Call-to-action (1 kalimat), lalu satu kalimat penjelasan mengapa draft ini tidak akan dianggap AI slop.
Batasan: Gunakan Bahasa Indonesia, maksimal 150 kata per draft. Hindari frasa generik seperti 'di era digital', 'game changer', atau 'semoga bermanfaat'. Jangan gunakan emoji berlebihan, dan jangan menyebutkan kata AI secara eksplisit di teks konten.

Insight Bisnis

Meningkatnya tombol report dan classifier ini menciptakan peluang jasa audit konten LinkedIn dan humanisasi tulisan AI untuk profesional serta korporasi. Konsultan bisa menawarkan paket penyelarasan strategi konten AI yang berfokus pada keaslian agar tidak dihukum algoritma.

FAQ

Apakah tombol 'Seems like AI slop' akan menghapus postingan orang lain?

Tidak. Tombol ini menyembunyikan postingan dari feed Anda dan memberikan sinyal ke LinkedIn untuk menyetel model rekomendasi.

Bagaimana cara menghindari konten saya dianggap AI slop?

Tambahkan pengalaman pribadi, opini spesifik, dan gaya khas Anda. Gunakan AI untuk riset dan draf, lalu edit ulang dengan suara sendiri.

Apa perbedaan fitur proofread baru dengan fitur enhance yang dihapus?

Fitur enhance mengubah isi tulisan dengan AI, sedangkan fitur proofread hanya memeriksa tata bahasa dan tidak mengubah voice penulis.

Apakah classifier baru bisa mendeteksi semua konten AI?

Tidak ada detektor yang sempurna. Classifier LinkedIn bertujuan mengurangi, bukan menghilangkan, dan hasil deteksi seperti Pangram menunjukkan tantangan akurasi.


Sumber: The Verge AI

Diringkas dan disusun otomatis oleh GrowWithAI AI Pulse. Pelajari lebih lanjut lewat kelas AI GrowWithAI atau buka AI Pulse.

Pelajari AI Lebih Dalam

Artikel ini hanya sebagian kecil dari yang diajarkan di kelas GrowWithAI. Bergabung dan belajar langsung dari praktisi.

Tips AI praktis ke inbox kamu

Gabung daftar email GrowWithAI: tutorial, tools, dan webinar gratis untuk kerja & bisnis di era AI.